KUNJUNGAN 27 PESERTA DIKLAT FUNGSIONAL PENERJEMAH ANGKATAN VII KE KEMENTERIAN LUAR NEGERI JAKARTA, 8 MEI 2018

Oleh : Syarif Hidayatullah, S.S., MALLC. • 2018-05-08 15:24:43

Sebagai rangkaian kegiatan Diklat Fungsional Penjenjangan Penerjemah Tingkat Pertama Angkatan VII Tahun 2018, 27 peserta diklat telah berkunjung ke Kementerian Luar Negeri pada Selasa, 8 Mei 2018. Rombongan dipimpin oleh Asisten Deputi Bidang Naskah dan Terjemahan, Eko Harnowo, dan diterima dalam 2 pertemuan terpisah oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Dr. A.M. Fachir; dan oleh Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Asia Pasifik dan Afrika, Bapak Andre Omer Siregar. Kunjungan dilakukan dalam rangka proses pembelajaran dengan menimba ilmu dari para pejabat tersebut yang juga merupakan mantan Penerjemah Presiden RI.

Dengan bertempat di Gedung Pancasila, Wakil Menteri Luar Negeri, Dr. A.M. Fachir, yang juga mantan Penerjemah Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, menekankan perlunya Pejabat Fungsional Penerjemah memahami bahwa mereka bekerja untuk negara besar yang berkomitmen melaksanakan amanah pada Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Dijelaskan bahwa penerjemahan merupakan karier yang strategis bagi negara, sehingga penerjemah pemerintah harus memiliki penguasaan bahasa yang baik dan pengetahuan umum yang luas, yang dapat diperoleh dengan rajin membaca. Penerjemah juga harus dapat memahami konteks, perbedaan budaya, dapat mengatur waktu, dan percaya diri. Penerjemah harus berupaya menghindari kesalahpahaman antara pembicara dan lawan bicaranya, memiliki “cognitive skill” yang baik, memiliki perbendaharaan kata yang luas, dan mampu menjaga rahasia negara. Penerjemah merupakan jembatan komunikasi pemerintah dengan pihak asing dan sehingga perlu mengupayakan terjadinya “chemistry” dengan pejabat yang didampingi sehingga dapat memperoleh kepercayaannya.

Wakil Menteri Luar Negeri, yang dahulu turut merancang kelahiran Jabatan Fungsional Penerjemah, menjelaskan dalam sesi tanya jawab bahwa penerjemah memiliki keahlian penerjemahan yang perlu digunakan secara tepat dan efektif sehingga hasil pekerjaan mereka akan memiliki dampak positif bagi instansi, daerah, dan negara. Sebagai kiat, disampaikan bahwa penerjemah harus memiliki tanggung jawab tinggi pada pekerjaannya dan memiliki “passion” pada bahasa serta penerjemahan sehingga akan berinisiatif meningkatkan kompetensi dan bekerja tanpa harus diperintah. Akhirnya, ditekankan bahwa kunci keberhasilan seorang penerjemah terletak pada persiapan sebelum melaksanakan tugas penerjemahan. Pertemuan ditutup dengan pemberian cindera mata oleh Asisten Deputi Bidang Naskah dan Terjemahan kepada Wakil Menteri Luar Negeri, dan dengan sesi foto bersama. Kegiatan tersebut berakhir pada pukul 12.00 WIB.

Sebelumnya, pada pukul 09.00 WIB dengan bertempat di Kantin Diplomasi, peserta diklat diterima Bapak Andre Omer Siregar, yang juga pernah menjadi Penerjemah Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Disampaikan dewasa ini peran penerjemah lisan semakin penting dalam menjembatani komunikasi lisan antara pejabat Pemerintah RI dengan mitra asingnya, seperti antara dua Kepala Negara/Pemerintahan. Sebagai akibat, penerjemah lisan turut mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan sebuah pertemuan. Agar pejabat atau pembicara yang didampingi dapat merasa nyaman, penerjemah lisan tidak hanya harus memiliki keterampilan penerjemahan lisan yang baik tetapi juga memiliki pembawaan diri yang dapat turut “mencairkan” suasana pertemuan, termasuk dalam melakukan senda gurau bila diperlukan. Dalam menjalankan tugasnya, penerjemah lisan perlu dapat membawakan diri dengan baik dan tidak “mencuri perhatian” publik pendengarnya.

Disampaikan bahwa kegiatan penerjemahan lisan dapat membawa manfaat seperti pembelajaran materi substantif baru, menjadi batu loncatan peningkatan karier, mengembangkan jejaring kenalan, mendatangkan pendapatan, dan turut menjadi pelaku sejarah. Selain itu, disampaikan pula beberapa kiat sukses untuk menjadi seorang penerjemah lisan, antara lain “3-C (Competent, Creative, Confident), merencanakan skenario pertemuan dengan menuliskan terlebih dahulu dialog yang mungkin dibicarakan dalam pertemuan, harus menjaga stamina fisik, tidak mudah grogi, dan melakukan reviu atas hasil pekerjaan sendiri. Dalam sesi tanya jawab ditegaskan bahwa penerjemahan lisan bukan tugas yang mudah namun merupakan kesempatan langka dan kehormatan besar yang tidak dapat dinilai dari segi pendapatan semata. Acara ditutup dengan pemberian cindera mata dari Asisten Deputi Bidang Naskah dan Terjemahan kepada narasumber dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Para peserta Diklat Fungsional Penjenjangan Penerjemah Tingkat Pertama Angkatan VII mendapatkan manfaat besar dari kunjungan ini dengan secara langsung belajar kiat-kiat untuk menjadi penerjemah yang unggul dari para mantan Penerjemah Presiden RI yang berpengalaman panjang. Ke depan, pengalaman dan kiat-kiat tersebut diharapkan dapat mengilhami para peserta diklat untuk terus mengembangankan kemahiran penerjemahan mereka sehingga akan membantu meningkatkan kinerja mereka bagi instansi dan bagi negara.

Siapa Penerjemah

Penerjemah adalah PNS yang diberikan tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan penerjemahan tulis maupun lisan, penyusunan naskah bahan penerjemahan, serta pengalihaksaraan dan penerjemahan teks naskah kuno/arsip kuno/prasasti dalam lingkungan instansi pemerintah pusat dan daerah.

Instansi Pembina

Jabatan Fungsional Penerjemah

Asisten Deputi Naskah dan Terjemahan
Deputi Bidang Dukungan Kerja Kabinet
Sekretariat Kabinet
Republik Indonesia

Alamat : Gedung 3 Lantai Basement
Jl. Veteran No. 18 Jakarta Pusat 10110
CP : Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Jabatan Fungsional Penerjemah:
Conakry Marsono
Indriawaty
Syarif Hidayatullah
Nurmeilawati, S.S., M.M.
Telephone : +6221-3864816
FAX : +6221-3864816
E-mail : [email protected]