20 Agustus 2021

Di masa pandemi, Sekretariat Kabinet, selaku Instansi Pembina Jabatan Fungsional Penerjemah (JFP), tetap berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi para Pejabat Fungsional Penerjemah (PFP) melalui penyelenggaraan berbagai diklat teknis bagi PFP di instansi pusat dan daerah yang disesuaikan dengan kebutuhan penerjemah. Kegiatan pembinaan dimaksud bertujuan antara lain untuk mendukung tugas dan fungsi instansi para PFP antara lain dengan penyelengaraan Diklat Penerjemahan Takarir.

Di era globalisasi, pertukaran informasi dalam berbagai bahasa menjadi sangat penting karena bermanfaat untuk memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia antara lain, memperkenalkan potensi pariwisata, ekonomi, dan kebijakan Pemerintah Indonesia ke dunia.

Penerjemahan takarir sudah banyak dilakukan PFP melalui pengembangan media sosial berbasis audio-visual, seperti youtube, untuk menyebarluaskan informasi kepada dunia. Selain itu, penerjemahan takarir sebagai penerjemahan audio-visual memiliki perbedaan karakteristik dari penerjemahan tulis lainnya maupun penerjemahan lisan.

Guna menjawab kebutuhan PFP agar mampu melaksanakan tugas penerjemahan takarir, Sekretariat Kabinet menyelenggarakan Diklat Teknis Penerjemahan Takarir Angkatan I, yang dilaksanakan secara daring pada tanggal 19 s.d. 25 Agustus 2021.

Pembukaan diklat dihadiri oleh pejabat/perwakilan dari Biro Kerja Sama Antar Parlemen (KSAP) Sekretariat Jenderal DPR RI dan Balai Bahasa Jawa Timur, Praktisi Penerjemahan Takarir Benedictus Bina Naratama (Bina) sebagai narasumber utama, para undangan eselon II di lingkungan Sekretariat Kabinet, pejabat/pegawai di lingkungan Pusat Pembinaan Penerjemah (Pusbinter) serta para Pejabat Fungsional Penerjemah (PFP) sebagai peserta diklat

Kepala Pusat Pembinaan Penerjemah, Sri Wahyu Utami, membuka diklat secara resmi sekaligus membacakan sambutan Deputi Bidang Administrasi Sekretariat Kabinet, Farid Utomo. Diklat harus berorientasi pada peningkatan semangat dan pengabdian bagi kepentingan masyarakat, bangsa, negara, dan tanah air. Selain itu, diklat harus berorientasi pada peningkatan kompetensi teknis, manajerial atau kepemimpinan dan sosio kultural yang dilakukan dengan semangat kerja sama dan tanggung jawab sesuai dengan lingkungan kerja dan organisasi, kata Ibu Sri Wahyu Utami. 

Forum pembukaan diklat dilanjutkan dengan pemaparan dari penceramah/narasumber utama, Benedictus Bina Naratama (Bina), bertemakan Tantangan dan Peluang Penerjemahan Takarir di Indonesia.

Bapak Bina menjelaskan bahwa strategi utama dalam penerjemahan takarir adalah efektif, singkat, padat informasi, menggunakan bahasa yang jelas, dan tepat sasaran.

Persyaratan untuk menjadi penerjemah takarir yang baik adalah mempunyai pengelolaan waktu kerja yang baik untuk mencapai target yang harus dipenuhi. Selain itu, penerjemah harus meningkatkan kemampuan sehingga dapat menambah portofolio penerjemahan, pesan Bapak Bina.

Setelah pembukaan diklat selesai, acara dilanjutkan dengan materi pembelajaran diklat dengan pokok bahasan Perkenalan Penerjemahan Takarir yang disampaikan oleh pengajar profesional LBI UI yaitu Zhilal El Furqaan. (FNH)

 







Goverment Public Relations (GPR)