11 Nopember 2021

Pusat Pembinaan Penerjemah kembali melaksanakan Panggung Penerjemah pada tanggal 10 November 2021 dengan dihadiri oleh 145 peserta Penerjemah dari berbagai instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Panggung Penerjemah merupakan ajang bagi Penerjemah pemerintah untuk bersilaturahmi sekaligus berbagi pengetahuan, pengalaman dan tips dalam pelaksanaan tugas sebagai penerjemah di instansi masing-masing.

Sebagai panggung bagi para Penerjemah, ajang ini sepenuhnya diisi oleh narasumber dan moderator para Penerjemah pemerintah dari berbagai instansi. Masing-masing narasumber memaparkan ruang lingkup pekerjaan, teknik pelaksanaan pekerjaan penerjemahan, dan pengalaman menarik dalam pelaskanaan tugas.

Narasumber pertama adalah Ibu Emma Nababan, Penerjemah Ahli Madya pada Pusat Pengembangan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Ibu Emma Nababan membagikan materi pengembangan penerjemahan yang memperkuat eksistensi dan kontribusi Penerjemah bagi Bangsa. Penerjemah pada Kemendikbudristek melaksanakan penerjemahan 5.000 buku anak berawal dari keprihatinan Menteri Dikbudristek, Bapak Nadiem Makarim yang melihat perpustakaan sekolah-sekolah minim koleksi bacaan, jelas Ibu Emma. 

Pengembangan penerjemahan lain yang dilaksanakan oleh Ibu Emma Nababan, selaku Koordinator Penyusunan RSKKNI bersama para penerjemah di Badan Kemendikbudristek adalah menyusun Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional untuk Penerjemah swasta, di antaranya RSKKNI untuk Penerjemah Lisan Konferensi dan Kemasyarakatan, Penerjemah Teks Umum, Penerjemah Bahasa Isyarat, dan Penerjemah. 

Narasumber kedua adalah Ibu Alfi Kurnianingsih, Penerjemah Ahli Muda pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Ibu Afli menyampaikan bahwa Penerjemah pemerintah dapat memberikan dukungan yang luar biasa dalam upaya membangun kerja sama bangsa Indonesia dengan negara-negara sahabat. Menjadi seorang Penerjemah yang dinilai kompeten oleh pimpinan memberikan saya banyak pengalaman untuk terlibat dalam berbagai event kerja sama dan berkunjung ke berbagai negara, kata Ibu Alfi.

Narasumber ketiga adalah Ibu Meyrina Megasari, Penerjemah Ahli Pertama pada Arsip Nasional Republik Indonesia. Ibu Meyrina menjelaskan dengan sangat menarik bagaimana pengalihaksaraan dan penerjemahan teks naskah kuno membantu kita memahami sejarah bangsa. Banyak peristiwa di berbagai daerah, selama bangsa Indonesia masih dalam pendudukan bangsa lain, tercatat dalam berbagai naskah kuno dan arsip kuno. Digitalisasi dan penerjemahan naskah dan arsip kuno membantu upaya memahami situasi bersejarah yang telah terjadi ratusan tahun sebelumnya.

Pada sesi selanjutnya, ditampilkan 3 orang pemateri yang merupakan penerjemah lisan, yaitu Bapak Fasrudin Arif Budiman, Penerjemah Ahli Madya pada DPR RI; Bapak Fathi Mustaqim, Penerjemah Ahli Madya pada Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta; dan Bapak Agus Sapari, Penerjemah Ahli Muda pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ketiganya membagikan pengetahuan, pengalaman, dan tips menjadi seorang penerjemah lisan bagi pimpinan instansi, pendampingan bagi masyarakat, dan penerjemah dalam rapat, pertemuan, atau konferensi internasional.

Para peserta sangat antusias dan terinspirasi oleh pemaparan masing-masing narasumber. Panggung Penerjemah ini diharapkan dapat mendorong semua Penerjemah pemerintah untuk melaksanakan tugas penerjemahan bagi instansi masing-masing dengan profesional dan dengan landasan mencintai apa pun pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.







Goverment Public Relations (GPR)