23 Juli 2021

Setelah sukses menyelenggarakan Diklat Penerjemahan Lisan Angkatan II untuk kompetensi penguasaan Bahasa Inggris, Jepang, dan Arab, Pusat Pembinaan Penerjemah (Pusbinter) kembali menyelenggarakan Diklat Teknis Penerjemahan Lisan Angkatan III, tanggal 22 s.d 29 Juli 2021, dengan fokus penguasaan Bahasa Inggris, Mandarin, dan Perancis.

Pembukaan diklat dihadiri oleh Deputi Bidang Administrasi, Kepala Pusat Pembinaan Penerjemah, Praktisi Penerjemahan Lisan Angistiya Pinakesti (Ibu Tiya Diran) sebagai narasumber utama, para Akademisi dan Praktisi Penerjemahan Lisan sebagai pengajar diklat yaitu Inanti P Diran, Abraham William, dan Moskwita Darmawan, para undangan eselon II di lingkungan Sekretariat Kabinet dan instansi asal peserta diklat, serta para Pejabat Fungsional Penerjemah (PFP) sebagai peserta diklat.

Pembukaan diawali dengan laporan persiapan penyelenggaraan diklat oleh Sri Wahyu Utami, Kepala Pusat Pembinaan Penerjemah. Dalam laporannya, Kapusbinter menyampaikan bahwa Sekretariat Kabinet selaku Instansi Pembina Jabatan Fungsional Penerjemah (JFP), selain mengadakan survei berkala terkait kegiatan pembinaan yang sudah ada, juga melakukan analisis kebutuhan diklat atau Training Needs Analysis (TNA) melalui masukan dari para penerjemah, kebutuhan instansi pengguna, serta instansi lainnya di luar instansi pengguna, dalam rangka merancang pelatihan yang komprehensif terkait materi, alokasi materi, dan strategi pembelajaran. 

Lebih lanjut, Kepala Pusat Pembinaan Penerjemah juga menyampaikan bahwa Diklat Penerjemahan Lisan Angkatan III diikuti oleh 20 orang PFP yang terdiri dari 16 peserta berasal dari instansi pusat dan 4 peserta dari instansi daerah, dengan rincian penguasaan bahasa yaitu 12 PFP berbahasa Inggris, 5 PFP berbahasa Perancis, dan 3 PFP berbahasa Mandarin.

Deputi Bidang Administrasi dalam sambutan pembukaannya menyampaikan pandangan pakar penerjemah Rachel Owens mengenai kompetensi dan kualitas yang harus dimiliki oleh penerjemah yaitu kualitas bawaan dan kualitas yang dapat diperoleh. Oleh karena itu, Sekretariat Kabinet sebagai Instansi Pembina JFP berupaya meningkatkan kualitas para penerjemah dengan memfasilitasi penyampaian pengetahuan dan pengalaman dari pakar, baik akademisi maupun praktisi di bidang penerjemahan melalui penyelenggaraan Diklat Teknis Penerjemahan Lisan Angkatan III.

Saya mengapresiasi atas kesediaan narasumber memberikan ilmunya kepada para penerjemah (PFP) dan saya berharap para PFP agar dapat menyerap semua ilmu yang akan disampaikan para narasumber serta mempergunakan kesempatan diklat teknis ini dengan sebaik-baiknya,''pesan Bapak Farid Utomo, Deputi Bidang Administrasi.

Acara pembukaan diklat dilanjutkan dengan pemaparan dari penceramah/narasumber utama, Angistiya Pinakesti (Tiya Diran), dengan mengambil tema Peran Penerjemah Lisan dalam Konferensi Nasional dan Internasional.

Ibu Tiya Diran memaparkan bahwa penerjemah harus mengenali berbagai macam profesi seorang juru Bahasa. Menurut Ibu Tiya Diran, hal paling utama yang harus dimiliki oleh seorang Penerjemah Lisan/Juru Bahasa (Interpreter) dalam bekerja adalah mencintai bahasa, harus siap bekerja di bawah tekanan waktu (berpikir cepat), siap dengan waktu koreksi yang sangat sedikit, konsentrasi, memiliki skill/kemampuan (kuat dalam penguasaan Bahasa Sumber serta Bahasa Sasaran), memiliki psikologis yang bagus dan mampu melepas ego (mampu bekerja dalam team work). Lebih lanjut, menurut Ibu Tiya Diran dari semua hal tersebut yang paling penting untuk menjadi juru Bahasa yang baik adalah disiplin.

Skill seorang Juru Bahasa selain kuat dalam dua bahasa baik Bahasa Ibu/Bahasa Sumber maupun Bahasa Sasaran, juga harus kuat atau menguasai vocabulary, pronunciation, dan grammar serta sering berlatih untuk mengenal kata kata, ujar Ibu Tiya Diran.

Di akhir pemaparannya, Ibu Tiya Diran berpesan kepada para penerjemah untuk beradaptasi dengan keadaan, merangkul platform RSI (Remote Simultaneous Interaction) yang berguna di masa pandemi maupun masa mendatang, berinvestasi dengan internet dan peralatan, mampu multitasking, konsentrasi, dan know their worth (mengetahui nilai diri penerjemah). 

Setelah pembukaan diklat selesai, acara dilanjutkan dengan materi pembelajaran diklat dengan pokok bahasan Pengenalan dan Teori Penerjemahan Lisan yang disampaikan oleh pengajar profesional LBI UI yang merupakan pakar penerjemahan lisan yaitu Inanti P Diran. (FNH)







Goverment Public Relations (GPR)