15 Juni 2021

Guna meningkatkan kompetensi para penerjemah di bidang penerjemahan lisan dan memenuhi kebutuhan atas ketersediaan penerjemah lisan, Sekretariat Kabinet melalui Pusat Pembinaan Penerjemah (Pusbinter) menyelenggarakan Diklat Teknis Penerjemahan Lisan Angkatan II Tahun 2021 secara daring, pada tanggal 14 s.d. 21 Juni 2021.

Dalam laporan pembukaannya, Indriawaty, Kepala Bidang Program dan Pengembangan, menyampaikan bahwa Diklat Penerjemahan Lisan Angkatan II diikuti oleh 20 orang Pejabat Fungsional Penerjemah (PFP) yang terdiri dari 14 peserta berasal dari instansi pusat dan 6 peserta dari instansi daerah, dengan rincian penguasaan bahasa yaitu 10 PFP berbahasa Inggris, 6 PFP berbahasa Arab, dan 4 PFP berbahasa Jepang. 

Diklat Teknis Penerjemahan ini diselenggarakan berdasarkan survei berkala dan analisis kebutuhan diklat melalui masukan dari para penerjemah, kebutuhan instansi pengguna dan instansi di luar instansi pengguna',ujar Indri.

Deputi Bidang Administrasi dalam sambutan pembukaan yang dibacakan oleh Kepala Pusat Pembinaan Penerjemah (Kapusbinter), Ibu Sri Wahyu Utami menyampaikan bahwa dalam kegiatan diklat ini para penerjemah akan dibekali teori dan praktik penerjemahan yang komprehensif sehingga dapat melakukan tugas penerjemahan sebaik mungkin.

Kami berharap para penerjemah menyadari pentingnya''Practice Makes Perfect''untuk meningkatkan kemampuan penerjemahan lisan. Jangan cepat berpuas diri, teruslah berupaya meningkatkan kemampuan melalui berbagai diklat yang diselenggarakan oleh Sekretariat Kabinet serta terlibat dalam berbagai kegiatan penerjemahan lisan untuk mendukung tugas pimpinan di instansi masing-masing',ucap Sri. 

Forum pembukaan diklat dilanjutkan dengan pemaparan dari penceramah utama, Marlisa Wahyuningsih Soepeno (Icha), Sekretaris Kedua PTRI ASEAN KEMLU dan Penerjemah Lisan Ibu negara, terkait tantangan dan peluang bagi penerjemah lisan negara.

Icha menjelaskan bahwa sebagai penerjemah kenegaraaan/penerjemah negara, berbagai macam tantangan seperti keakurasian, fokus/konsentrasi, keberagaman topik/isu, kemampuan diplomasi, keakuratan pesan, tidak terpesona (starstruck), kemampuan menjaga rahasia serta kemampuan mengerjakan berbagai tugas tambahan merupakan beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan.

Selain tantangan, menjadi penerjemah lisan negara mempunyai banyak peluang dan manfaat pula, antara lain jejaring menjadi lebih luas, jam terbang makin tinggi, pengalaman makin luas, wawasan semakin beragam serta mempunyai portofolio yang baik',ujar Icha.

Di akhir pemaparannya, Icha memberikan motivasi kepada para PFP agar tetap semangat, berpikir positif, dan terus belajar serta aktif mengikuti diklat/pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi penerjemah karena terdapat kemungkinan di masa mendatang salah satu dari peserta diklat terpilih menjadi penerjemah lisan negara.

Setelah kegiatan pembukaan selesai, dilanjutkan dengan materi diklat Pengantar Teori Penerjemahan Lisan yang disampaikan oleh pengajar profesional LBI UI yang merupakan pakar penerjemahan lisan yaitu Inanti P Diran.(FNH)

 







Goverment Public Relations (GPR)